Pages

Burung enggang

Tuesday, August 14, 2012
Burung Rangkong (Enggang) adalah burung yang terdiri dari 57 spesies yang tersebar di Asia dan Afrika. 14 diantaranya terdapat di Indonesia. Di antara enggang, jenis enggang gading adalah yang terbesar ukurannya, baik kepala, paruh dan tanduknya yang menutupi bagian dahinya. Enggang gading adalah salah satu dari 14 jenis burung rangkong yang ada di Indonesia dan menjadi maskot provinsi Kalimantan Barat. Karena jumlahnya yang semakin sedikit burung ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undang.



Binatang yang dilindungi ini pada usia mudanya mempunyai paruh dan mahkota berwarna putih. Seiring usianya, paruh dan mahkotanya akan berubah warna menjadi oranye dan merah, ini akibat dari seringnya enggang menggesekkan paruh ke kelenjar penghasil warna oranye merah yang terletak di bawah ekornya. Burung ini menyukai daun Ara sebagai makanan favoritnya, tapi tidak jarang juga makan serangga, tikus, kadal bahkan burung kecil.
Burung Enggang mempunyai kebiasaan hidup berpasang-pasangan dan cara bertelurnya merupakan suatu daya tarik tersendiri. Pada awal masa bertelur burung jantan membuat lubang yang terletak tinggi pada batang pohon untuk tempat bersarang dan bertelurnya burung betina. Selama mengerami telurnya, sang betina bersembunyi menutup lubang dengan dedaunan dan lumpur dengan lubang sebagai jendelanya. Kemudian burung jantan memberi makan burung betinanya melalui sebuah lubang kecil selama masa inkubasi, dan berlanjut sampai anak mereka tumbuh menjadi burung muda. Karena itulah burung enggang ini dijadikan sebagai contoh kehidupan bagi orang dayak untuk bermasyarakat agar selalu mencintai dan mengasihi pasangan hidupnya dan mengasuh anak mereka hingga menjadi seorang dayak yang mandiri dan dewasa.


Burung enggang biasa bertengger di pohon yang tinggi, sebelum terbang Enggang memberikan tanda dengan mengeluarkan suara gak yang keras. Ketika sudah mengudara kepakan sayap enggang mengeluarkan suara yang dramatik. Burung ini hidup berkelompok sekitar 2 sampai 10 ekor tiap pohon. Terkadang burung terbang bersama dalam jumlah antara 20-30 ekor. Suara enggang ini sangat khas dan nyaring sekali seakan-akan memanggil sekawannya di balik pohon yang rindang. Musim telurnya dari bulan April sampai Juli dan anak-anak burung yang lebih besar membantu burung jantan dewasa menyediakan makan bagi burung betina dan anak-anaknya yang baru menetas.

Dalam budaya Suku Dayak Kalimantan, burung enggang selalu menjadi bagiannya. Mitos dan cerita di balik burung enggang berbeda-beda di setiap daerah salah satu mitos tersebut mengatakan burung enggang adalah penjelmaan dari Panglima Burung. Panglima Burung adalah sosok yang tinggal di gunung pedalaman kalimantan dan berwujud gaib dan hanya akan hadir saat perang. Umumnya burung ini dianggap sakral dan tidak diperbolehkan untuk diburu apalagi dimakan. Bila ada burung enggang yang ditemukan mati, jasadnya tidak dibuang. Bagian kepalanya digunakan untuk hiasan kepala. Rangka kepala burung enggang yang keras bertulang akan tetap awet bentuknya. Hiasan kepala inipun hanya boleh digunakan oleh orang-orang terhormat.

Namun sekarang ini burung enggang merupakan burung langka yang sudah sangat sulit di temui di hutan Kalimantan, ini dikarenakan pengerusakan hutan borneo yang terus-menerus terjadi, seperti penebangan hutan baik illegal logging maupun untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. Nasib burung enggang ini sekarang sama seperti nasib suku Dayak di borneo yang semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Hal ini juga diperparah dengan maraknya perburuan yang dilakukan masyarakat sekitar. Harga persatu kepala burung Enggang dihargai Rp. 2,5 juta. Karena harganya yang mahal banyak warga pedalaman berlomba berburu burung tersebut dihutan.

1 comments:

  1. Buat blogger Anda .. saya menyukainya dan saya Ancungi Jempol siip deh, Like This. Iya memang di setiap cerita (Legenda)dan kepercayaan masyarakat Dayak Kalimantan (Borneo) terhadap burung Enggang itu berbeda - beda terutama bagi subsuku "Dayak Taman" / "Banuaka Taman" (Kapuas Hulu) dan "Dayak Iban" (Kapuas Hulu & Serawak).Kalou menurut kepercayaan kami orang Dayak Taman (kebetulan saya orang Dayak Taman),kami mempercayai jika menurut cerita nenek moyang kami bahwa Burung Enggang Gading (Burung Tantauan) itu adalah penjelmaan dari panglima sakti yang bernama "SUKA MORENG AWAN" bahkan tempat tinggal Rumah Betang Suka Moreng Awan ini masih ada dan Lebur menjadi Batu dan semua keturunannya sedangkan Suka Moreng Awan ini tidak bisa menjelma menjadi manusia lagi dan kembali menjadi Burung Enggang Gading.Lokasi rumah betang Suka Moreng Awan yang Lebur menjadi Batu ini ada di seberang perkampungan (Rumah Betang) Lunsa hilir (Kapuas Hulu) dan mayarakat Lunsa menamakan tempat itu "Bukit Bai' Sampee".So, jika ingin ke lokasi harus menyebrangi sungai Kapuas dengan sampan / motor air. Maka dari itu bagi masyrakat Dayak Taman sangat Tabu dan berdosa terhadap Tuhan jika kita memburu atau memakan daging dari Burung Enggang ini karena bagi masyarakat Dayak Taman (Kapuas Hulu) burung Enggang Gading termasuk burung suci dan saudara bagi kami (orang Banuaka Taman). Sekian terima kasih :)

Post a Comment

Saya masih butuh saran dan kritik

 
Belajar Menulis dan Memberikan informasi © 2011 | Designed by Blogger Templates Gallery